Devin Finzer adalah co-founder dan CEO OpenSea — diluncurkan pada Desember 2017 sebagai salah satu marketplace NFT permissionless pertama dan tumbuh menjadi marketplace NFT dengan volume tertinggi di dunia selama boom NFT 2021, mencapai $3+ miliar volume trading bulanan dan valuasi venture $13,3 miliar pada Januari 2022 — sebelum jatuh tajam saat harga NFT kolaps di 2022–2023 dan Blur (platform fokus trader profesional) merebut mayoritas volume NFT Ethereum pada awal 2023.
Latar Belakang
Devin Finzer belajar ilmu komputer di Brown University. Sebelum OpenSea, ia bekerja sebagai software engineer di Google dan Pinterest, lalu co-mendirikan Claimdog (diakuisisi Credit Karma pada 2015). Ia bertemu Alex Atallah (CTO co-founder-nya) di komunitas tech San Francisco. Keduanya masuk Y Combinator pada 2018 untuk mengembangkan OpenSea.
OpenSea
Model: Marketplace NFT peer-to-peer permissionless — siapapun dapat mendaftarkan dan membeli NFT tanpa perlu persetujuan listing; biaya 2,5%.
Tonggak sejarah utama:
- Agustus 2021 — Volume harian 200.000+ ETH; volume bulanan melampaui $3 miliar saat era Bored Ape Yacht Club
- Januari 2022 — Series C sebesar $300 juta pada valuasi $13,3 miliar dari Paradigm dan Coatue
- Februari 2022 — Eksploitasi protokol Wyvern saat migrasi OpenSea; ~600 ETH (~$1,7 juta) terkuras dari akun pengguna
- 2022 — Pasar NFT kolaps; volume turun 90%+ dari puncak
- 2023 — Blur launch dengan airdrop token BLUR yang menginsentif trader volume tinggi; Blur merebut 50%+ pangsa pasar NFT Ethereum
Respons terhadap Blur: OpenSea secara kontroversial mengurangi penegakan creator royalty untuk bersaing dengan model Blur yang memungkinkan 0% royalti. Ini mendapat penolakan kuat dari kreator NFT yang mengandalkan royalti sebagai pendapatan berkelanjutan.
OpenSea Seaport: OpenSea membuka sumber kode infrastruktur marketplace utamanya sebagai “Seaport” — memungkinkan marketplace dan aggregator lain menggunakan format order book OpenSea.
Tantangan Hukum
- Insider trading (2022) — Nathaniel Chastain, kepala produk OpenSea, dituntut dan dinyatakan bersalah atas penipuan kawat dan pencucian uang karena menggunakan pengetahuan muka tentang NFT yang akan ditampilkan untuk membeli dan menjual NFT tersebut demi keuntungan pribadi. Ini adalah penuntutan pertama terkait insider trading NFT.
- Wells Notice SEC (2023) — OpenSea mengungkapkan menerima Wells Notice dari SEC yang menyelidiki apakah beberapa NFT di platformnya adalah sekuritas yang tidak terdaftar.
Kritik
Devin Finzer dikritik atas penanganan kompetisi dengan Blur — khususnya keputusan mengorbankan creator royalties untuk volume. Para kreator NFT melihat ini sebagai pengkhianatan terhadap janji ekosistem NFT sebagai alat pemberdayaan kreator. OpenSea juga dikritik karena lambat berinovasi dibanding pesaing yang lebih agresif.
Sentimen Media Sosial
Finzer aktif di X/Twitter (@dfinzer). Selama boom NFT 2021, ia dipuja sebagai salah satu pembangun paling penting di Web3. Setelah 2022, sentimen lebih campuran — akui pencapaian membangun marketplace pertama, tapi dikritik atas respons strategis yang lambat. Di komunitas NFT Indonesia, OpenSea dikenal sebagai marketplace NFT pertama yang banyak digunakan oleh kolektor lokal.
Terakhir diperbarui: 2026-04
Istilah Terkait
Lihat Juga
- NFT dan Kepemilikan Game Digital
- Apakah Program Points Hanya Airdrop dengan Marketing Lebih Baik?
- Tukar kripto dengan ChangeNOW
Sumber
- OpenSea (https://opensea.io) — platform marketplace NFT yang dipimpin Finzer.
- Dune Analytics. OpenSea Volume vs Blur (https://dune.com/hildobby/nft) — data volume dan pangsa pasar marketplace NFT.
- CoinDesk. “OpenSea Co-Founder Talks $13.3B Valuation.” (https://www.coindesk.com/business/2022/01/05/opensea-raises-300m-at-133b-valuation/) — Series C dan perjalanan OpenSea.