Royalti NFT adalah persentase dari harga jual yang dibayarkan kepada kreator orisinal setiap kali NFT mereka dijual di pasar sekunder (bukan pertama kali terjual). Ini dianggap sebagai salah satu inovasi paling penting NFT untuk ekonomi kreator — sebuah mekanisme yang secara teoritis memungkinkan seniman terus mendapat kompensasi dari apresiasi karya mereka, tidak seperti seni fisik di mana kreator tidak mendapat bagian dari penjualan ulang.
Cara Kerja
Model ideal:
Kreator mengatur royalti 5–10% dalam smart contract NFT. Setiap kali NFT dijual di marketplace yang menghormati royalti, persentase tersebut otomatis ditransfer ke alamat wallet kreator.
Contoh:
- Kreator mint NFT, jual pertama $100 (dapat $100)
- Pembeli A jual ke Pembeli B seharga $1.000 → kreator dapat $50 (5%) otomatis
- Pembeli B jual ke Pembeli C seharga $10.000 → kreator dapat $500 (5%) otomatis
Ini berarti kreator bisa mendapat penghasilan terus-menerus dari kesuksesan karya mereka bahkan setelah penjualan awal.
Sejarah dan Kontroversi
Royalti NFT bekerja baik di era 2021–2022 ketika semua marketplace utama (OpenSea, Rarible) menghormatinya. Masalah besar muncul di 2022–2023 ketika marketplace baru seperti Blur memungkinkan trading dengan royalti opsional (bayar sendiri atau tidak bayar sama sekali) untuk menarik volume trading. OpenSea awalnya mempertahankan wajib royalti tapi akhirnya terpaksa mengikuti untuk bersaing, memungkinkan royalti opsional juga.
Hasilnya: mayoritas transaksi NFT di 2023+ tidak membayar royalti penuh kepada kreator.
Royalti On-Chain vs Off-Chain
Off-chain enforcement (marketplace-dependent):
- Royalti diimplementasikan di level marketplace, bukan smart contract
- Marketplace bisa memilih tidak menghormati royalti
- Ini yang terjadi dengan Blur — karena smart contract sendiri tidak bisa memaksa royalti
On-chain enforcement (kontrak memaksa):
- Beberapa kreator membuat smart contract yang benar-benar memblokir transfer kecuali buyer membayar royalti
- Tapi ini mempersulit likuiditas dan composability NFT
- Solusi seperti ERC-2981 (standard royalti) masih bergantung pada kepatuhan marketplace
Kesalahpahaman Umum
“Royalti NFT dijamin oleh blockchain.”
Tidak — royalti umumnya ditegakkan di level marketplace, bukan di blockchain itu sendiri. Ini bisa diabaikan oleh marketplace baru yang memilih tidak mengikutinya.
“Royalti NFT menggantikan royalti streaming musik.”
Pendapatan royalti NFT sangat bergantung pada volume transaksi sekunder yang sangat berfluktuasi. Di bear market, volume turun 99% dan royalti yang diterima bisa mendekati nol. Ini jauh kurang stabil dari royalti streaming.
Kritik
Debat royalti NFT mengungkap ketegangan fundamental dalam ekosistem Web3: apakah prioritasnya adalah kepentingan kreator atau likuiditas/efisiensi pasar? Blur menang secara market share dengan memilih likuiditas, mengorbankan kreator. Ini menjadi pelajaran bahwa “kode adalah hukum” tidak berarti nilai kreator terlindungi secara otomatis tanpa penegakan yang tepat.
Sentimen Media Sosial
Kontroversi royalti adalah topik yang sangat panas di komunitas NFT dan kreator Indonesia. Banyak seniman digital yang awalnya antusias dengan NFT karena janji royalti pasif kini kecewa karena marketplace tidak menegakkannya. Debat “creator rights vs trader rights” masih berlanjut, dengan komunitas terpecah antara yang memprioritaskan likuiditas trading dan yang memprioritaskan kompensasi kreator.
Istilah Terkait
Lihat Juga
- Are Points Programs Just Airdrops with Better Marketing?
- Why Smart Contract Audits Fail
- Swap crypto with ChangeNOW